Langsung ke konten utama

Apa Kabar Purnama? #2

Apa kabar purnama, ternyata kisah kita benar. Tersisa aku yang menunggu. Meskipun kupahami bentuk kebersamaan kita  ialah ketidakpastian yang sangat konkret. Dan perpisahan kita merupakan bentuk ketidakpastian yang absolut. Begitu banyak ketidakpastian. Hingga akhirnya kau memilih untuk tidak menampakan wujudmu lagi. Aku tak lagi bisa melihatmu di hari keempat belas atau kelima belas dalam kalender lunar. Kau lenyap bersama dengan angan yang pernah kita bangun bersama. Terlalu banyak “katanya” yang sekedar menjadi “katanya”. Kau ingat katanya kau akan mengupayakan diriku agar senantiasa bahagia. Tetapi itu menjadi lelucon bodoh yang sekali lagi, hanya sekedar “katanya”.

      Semua sudah berlalu, aku merelakan. Aku pikir sudah saatnya menjelajah yang belum ku jelajah. Melakukan perjalanan baru lagi. Bersama mereka yang rela menetap. Bukan yang singgah sesaat lalu melangkah. Lari. Seakan hanya tempat peristirahatan sesaat. Aku tidak menyalahkan siapapun. Mungkin memang hati ini terlalu percaya. Berlatih menerima, tetapi dikecewakan disuatu waktu lalu nelangsa dan gundah. Tidak berhenti disitu, tanpa disadari ia sekuat  baja. Nyatanya kali ini ia bisa memulai kembali dari sisa-sisa yang lalu, dan menjadikannya baru.



Tanggerang Selatan
Jumat, 21 Desember 2017
Anisa Nur Rezky

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cepat Banget

Hari ini tanggal 2 September 2014, aku iseng pergi ke warnet dekat rumah. Entah ada gerangan apa, mungkin karena niat awal ku yang ingin mengerjakan tugas sekolah. Namun, justru niat awal ku tidak terlaksana dengan baik. Kedengarannya mungkin aneh, untuk apa pergi ke warnet jika di rumah saja sudah ada laptop koneksi internet/wifi. Ya jujur aku datang ke warnet karena bosan ada di rumah. Lupakan masalah warnet! Mengapa waktu berjalan sangat cepat sekali? Rasanya baru kemarin aku mendaftar SMA, sekarang sudah harus pergi meninggalkan masa putih abu-abu ini. Sungguh menyebalkan! Aku ingat ingat kembali rasanya baru kemarin aku diangkat menjadi Ketua Angklung, dan sekarang harus mengurangi kegiatan ekstrakulikuler karena harus fokus terhadap Ujian Akhir. Jujur aku sudah terlanjur cinta dengan Angklung!! Alat musik ini sangat menghipnotis ku! Damn I Love Angklung!!!!!!!!!!!!!!!!!

Pertemuan dan perpisahan

Aku takut terbang dan aku takut jatuh. Aku takut dengan segala hal yang hanya bersifat sementara. Aku takut kehilangan. Aku takut sendirian lagi. Aku takut ditinggal seorang diri saat aku sedang membutuhkan kehadirannya. Aku benci dengan segala hal perpisahan. Aku benci dengan keegoisan seseorang yang hanya bisa datang dan pergi sesuka hati nya saja, mengusik hidup orang lain lalu berlalu semau egonya. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa pasrah, pasrah, pasrah. Aku berharap ini selamanya. Tapi tuhan punya takdir dan jalannya. Aku hanya tidak ingin menyalahi takdir. Pertemuan dan perpisahan seperti sebuah garis lurus yang sudah tidak bisa di bengkokan lagi. Walaupun di setiap perpisahan akan ada pertemuan baru lagi. Tidak semudah itu aku bisa menerima nya, kehilangan begitu pahit buatku di kehidupanku. Aku hanya ingin ini selamanya walaupun tidak mungkin.

Teropong Serbaguna

Aku punya mainan baru. Hehehe. Tadaaaaa!! Teropong. Terus terang aku nggak sama sekali mengerti tentang kualifikasi teropong ini kayak gimana . So, aku nggak bisa mendeskripsikan teropong ini dengan detail. Yang aku tahu, ya ini alat namanya teropong haha. Aku nggak sengaja menemukan teropong ini di gudang. Dan kalian harus tahu, mengamati sesuatu dengan menggunakan teropong itu merupakan hal yang sangat mengasyikan. Sejak beberapa hari yang lalu, itu jadi hobby baru aku. Aku tahu sebenarnya yang aku lakukan itu sedikit nggak sopan. Tapi mau gimana lagi, seru banget sih. Ya, tuhan maafkan ketidaksopanan ku dalam menguntit kegiatan orang lain. Sejujurnya aku sama sekali tidak bermaksud melanggar privasi orang lain. Toh yang aku lakukan hanya mengamati gerak-geriknya saja. Aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma seperti mengintip orang mandi. hahahaha. Sama sekali tidak! Saat aku masih di rumah  yang di Tangsel, obyek yang bisa aku amati dengan menggunakan teropong ini ...