Langsung ke konten utama

Janji ku

Aku tidak pernah menyangka bahwa waktu akan berjalan secepat ini. Bahkan aku tidak sanggup membayangkan bahwa orang yang sangat aku cintai di dunia ini sudah semakin menua. Sewaktu aku kecil aku pernah merasa takut ditinggalkan olehnya. Dan aku selalu mencari keberadaannya. Namun saat ini justru aku yang pergi meninggalkannya. Aku berkuliah di luar kota dan berbeda pulau dengannya. Bandung dan Balikpapan sama sekali tidak dekat. Malam ini aku sangat merindukannya. Ia berkata jika aku pulang nanti, akan menyiapkan pesta sambutan untukku. Aku berkata padanya untuk tidak berlebihan menyambut kedatanganku. Namun ia memaksa dengan alasan, ia ingin merayakannya sekaligus merayakan hari ulang tahunku. Aku hanya diam saja. Ia belum begitu paham bahwa sebenarnya aku sangat tidak suka dengan perayaan ulang tahun. Tetapi aku sangat menyayanginya. Nenekku adalah alasan mengapa aku bisa tersenyum meskipun sedang menghadapi masa-masa sulit. Aku akan berusaha melakukan semuanya dengan sebaik-baiknya demi membuatnya bahagia.






Bandung, 26 Maret 2016
21:56 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teropong Serbaguna

Aku punya mainan baru. Hehehe. Tadaaaaa!! Teropong. Terus terang aku nggak sama sekali mengerti tentang kualifikasi teropong ini kayak gimana . So, aku nggak bisa mendeskripsikan teropong ini dengan detail. Yang aku tahu, ya ini alat namanya teropong haha. Aku nggak sengaja menemukan teropong ini di gudang. Dan kalian harus tahu, mengamati sesuatu dengan menggunakan teropong itu merupakan hal yang sangat mengasyikan. Sejak beberapa hari yang lalu, itu jadi hobby baru aku. Aku tahu sebenarnya yang aku lakukan itu sedikit nggak sopan. Tapi mau gimana lagi, seru banget sih. Ya, tuhan maafkan ketidaksopanan ku dalam menguntit kegiatan orang lain. Sejujurnya aku sama sekali tidak bermaksud melanggar privasi orang lain. Toh yang aku lakukan hanya mengamati gerak-geriknya saja. Aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma seperti mengintip orang mandi. hahahaha. Sama sekali tidak! Saat aku masih di rumah  yang di Tangsel, obyek yang bisa aku amati dengan menggunakan teropong ini ...

Berhasil

Aku paham benar, jika kamu begitu sering dikecewakan. Aku tahu pasti, bahwa kamu begitu banyak mencari. Hingga aku adalah yang kesekian. Awalnya bukan prioritas. Coba-coba berhadiah, seperti itu aku mendeskripsikannya. Seperti biasa, empati ku selalu mengalahkan logika ku. Sehingga yang ku lakukan hanyalah menerima. Jujur saja aku tidak bisa menolak secara langsung. Aku tidak suka menyakiti. Hingga aku memutuskan untuk memberikan sedikit kesempatan.  Ada hal-hal unik yang aku temukan pada dirimu. Kamu begitu gampang menceritakan duniamu kepada orang yang baru saja kamu temui. Aku berfikir itu adalah suatu taktik untuk mendekatiku, sudah basi. Kamu bukan satu-satunya orang yang pernah berbuat demikian. Hingga suatu masa, yang kamu lakukan membuat ku berdecak dan bergumam dalam hati. "Dasar manusia aneh!", seperti itu aku menghardik dirimu dalam hati kecilku. Kamu aneh dan sedikit gila. Dari sekian banyak yang pernah melakukan pendekatan, kamu adalah yang pertama berterus te...

Benar

Semuanya menjadi lebih berarti ketika telah pergi. Ya itu sangat benar sekali. Aku merasa membutuhkannya ketika ia sudah tidak ada lagi. Seperti biasanya, aku selalu menjalankan kemauan orang lain, bukan kemauanku sendiri. Seperti itulah aku terlahir. Mengikuti kemauannya untuk membahagiakannya. Sejujurnya aku sudah sangat bosan dan sangat muak dengan kondisi seperti ini. Tetapi aku masih saja selalu menuruti apa yang orang lain inginkan, bukan apa yang aku inginkan.