Langsung ke konten utama

Takkan Sama Lagi (by Anisa Nur Rezky)

Mungkin hati takkan pernah bisa
Memaksaku tuk kembali lagi
Meski engkau kan selalu ada
Rasa ini telah pergi

Janganlah kau tanyakan mengapa
Ku sangat enggan tuk menjawabnya
Cintaku telah mati sejak lama
Ku hanya ingin berpisah

Cinta takkan pernah sama lagi
Walau kau kembali
Menghiasi hari sepiku
Rasa yang dulu pernah ada
Kini telah pergi Selamanya

Dulu waktuku habiskan bersamamu
Namun kini takkan pernah lagi
Sudahlah sudah semua telah berlalu
Rasa ini telah pergi

Janganlah kau tanyakan mengapa
Ku sangat enggan tuk menjawabnya
Cintaku telah mati sejak lama
Ku hanya ingin berpisah

Cinta takkan pernah sama lagi
Walau kau kembali
Menghiasi hari sepiku
Rasa yang dulu pernah ada
Kini telah pergi Selamanya


Ini lagu yang aku tulis. Mungkin bagi kalian lagu ini biasa aja atau bahkan jelek. HEHEHE. Aku cuma pengen punya satu karya apapun hasilnya. Mau bagus atau jelek, seenggaknya aku bisa nyanyiin lagu yang aku buat sendiri. :) 
Kalian bisa dengar disini Takkan Sama Lagi by Anisa Nur Rezky

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teropong Serbaguna

Aku punya mainan baru. Hehehe. Tadaaaaa!! Teropong. Terus terang aku nggak sama sekali mengerti tentang kualifikasi teropong ini kayak gimana . So, aku nggak bisa mendeskripsikan teropong ini dengan detail. Yang aku tahu, ya ini alat namanya teropong haha. Aku nggak sengaja menemukan teropong ini di gudang. Dan kalian harus tahu, mengamati sesuatu dengan menggunakan teropong itu merupakan hal yang sangat mengasyikan. Sejak beberapa hari yang lalu, itu jadi hobby baru aku. Aku tahu sebenarnya yang aku lakukan itu sedikit nggak sopan. Tapi mau gimana lagi, seru banget sih. Ya, tuhan maafkan ketidaksopanan ku dalam menguntit kegiatan orang lain. Sejujurnya aku sama sekali tidak bermaksud melanggar privasi orang lain. Toh yang aku lakukan hanya mengamati gerak-geriknya saja. Aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma seperti mengintip orang mandi. hahahaha. Sama sekali tidak! Saat aku masih di rumah  yang di Tangsel, obyek yang bisa aku amati dengan menggunakan teropong ini ...

Saya Malu, Hidup Saya

Perasaan saya sama sekali tidak baik-baik saja pada malam hari ini. Terkadang saya malu akan kelemahan saya dalam mengontrol emosi dan perasaan. Saya terlalu mudah mengeluh. Saya sangat malu kali ini. Saya malu mengeluhkan permasalahan yang menurut saya adalah permasalahan terbesar yang pernah ada di kehidupan saya, tetapi mungkin menurut orang lain ini hanyalah permasalahan yang sangat biasa saja. Entah berapa cangkir kopi pahit yang telah habis saya tegak malam ini. Menurut saya masalah ini lebih pahit dari beberapa cangkir kopi pahit tadi. Saya malu mengeluh, namun saya bisa apalagi selain mengeluhkan permasalahan ini di blogger saya. Menangis saja saya sudah tidak mampu lagi. Perut saya sakit, tetapi saya sudah tidak memerdulikannya. Saya tahu, saya bodoh.  Saya seperti menyiksa diri sendiri. Tidak makan dan meminum kopi tanpa kendali. Biarkan saya seperti ini. Saya lelah, saya hanya ingin melupakan permasalahan orang dewasa yang terkadang begitu menyakitkan melebihi nyeri...

Benar

Semuanya menjadi lebih berarti ketika telah pergi. Ya itu sangat benar sekali. Aku merasa membutuhkannya ketika ia sudah tidak ada lagi. Seperti biasanya, aku selalu menjalankan kemauan orang lain, bukan kemauanku sendiri. Seperti itulah aku terlahir. Mengikuti kemauannya untuk membahagiakannya. Sejujurnya aku sudah sangat bosan dan sangat muak dengan kondisi seperti ini. Tetapi aku masih saja selalu menuruti apa yang orang lain inginkan, bukan apa yang aku inginkan.