Langsung ke konten utama

Sejak Hari Pertama Lahir

Kamu kuat, sejak hari pertama lahir. Kamu berbeda, tidak mengapa. Jalan hidup mu mungkin tidak sama dengan kebanyakan orang. Kamu ditempa, kemudian berproses. Sakit bukan? Resapi saja.

Dengan kondisi tidak diinginkan, kamu hadir. Lantas sekitar begitu menyayangi, sebagian merasa malu. Katanya kamu membawa rezeki, sebagian berupaya menutupi kenyataan. Padahal kamu tidak pernah meminta untuk terlahir.

Kamu tahu rasanya menjadi tidak diinginkan. Kamu tahu rasanya menjadi berbeda. Kadang kamu mengutuk tuhan yang jelas tidak adil. Hidupmu terlihat lebih sulit dari yang lainnya.

Kamu lewati serangkaian peristiwa, tidak mudah namun pada akhirnya bisa. Kamu belajar, kamu rangkul semua beban, kamu peluk erat. Melalui penerimaan kamu mampu bersyukur. Jelas bukan tanpa alasan tuhan menguji. Yang maha pengasih paham benar, bahwa kamu kuat sejak hari pertama lahir.

Bertahan lah sampai kaki mu tidak sanggup menopang tubuhmu. Dua puluh dua tahun sudah, jika tuhan beri waktu lebih lama maka besar tanggung jawabmu untuk memanfaatkan sisa waktu mu dengan sebaik-baiknya.

(Dua puluh dua tahun setelah 18 Juni 1997)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya Malu, Hidup Saya

Perasaan saya sama sekali tidak baik-baik saja pada malam hari ini. Terkadang saya malu akan kelemahan saya dalam mengontrol emosi dan perasaan. Saya terlalu mudah mengeluh. Saya sangat malu kali ini. Saya malu mengeluhkan permasalahan yang menurut saya adalah permasalahan terbesar yang pernah ada di kehidupan saya, tetapi mungkin menurut orang lain ini hanyalah permasalahan yang sangat biasa saja. Entah berapa cangkir kopi pahit yang telah habis saya tegak malam ini. Menurut saya masalah ini lebih pahit dari beberapa cangkir kopi pahit tadi. Saya malu mengeluh, namun saya bisa apalagi selain mengeluhkan permasalahan ini di blogger saya. Menangis saja saya sudah tidak mampu lagi. Perut saya sakit, tetapi saya sudah tidak memerdulikannya. Saya tahu, saya bodoh.  Saya seperti menyiksa diri sendiri. Tidak makan dan meminum kopi tanpa kendali. Biarkan saya seperti ini. Saya lelah, saya hanya ingin melupakan permasalahan orang dewasa yang terkadang begitu menyakitkan melebihi nyeri...

Benar

Semuanya menjadi lebih berarti ketika telah pergi. Ya itu sangat benar sekali. Aku merasa membutuhkannya ketika ia sudah tidak ada lagi. Seperti biasanya, aku selalu menjalankan kemauan orang lain, bukan kemauanku sendiri. Seperti itulah aku terlahir. Mengikuti kemauannya untuk membahagiakannya. Sejujurnya aku sudah sangat bosan dan sangat muak dengan kondisi seperti ini. Tetapi aku masih saja selalu menuruti apa yang orang lain inginkan, bukan apa yang aku inginkan. 

Teropong Serbaguna

Aku punya mainan baru. Hehehe. Tadaaaaa!! Teropong. Terus terang aku nggak sama sekali mengerti tentang kualifikasi teropong ini kayak gimana . So, aku nggak bisa mendeskripsikan teropong ini dengan detail. Yang aku tahu, ya ini alat namanya teropong haha. Aku nggak sengaja menemukan teropong ini di gudang. Dan kalian harus tahu, mengamati sesuatu dengan menggunakan teropong itu merupakan hal yang sangat mengasyikan. Sejak beberapa hari yang lalu, itu jadi hobby baru aku. Aku tahu sebenarnya yang aku lakukan itu sedikit nggak sopan. Tapi mau gimana lagi, seru banget sih. Ya, tuhan maafkan ketidaksopanan ku dalam menguntit kegiatan orang lain. Sejujurnya aku sama sekali tidak bermaksud melanggar privasi orang lain. Toh yang aku lakukan hanya mengamati gerak-geriknya saja. Aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma seperti mengintip orang mandi. hahahaha. Sama sekali tidak! Saat aku masih di rumah  yang di Tangsel, obyek yang bisa aku amati dengan menggunakan teropong ini ...