Langsung ke konten utama

Postingan

Rinjani

Aku rindu mata beradu Meski malu sungguh ku mau Diam membuat mu berlalu Melepaskan ku tanpa belenggu Seandainya aku rinjani Yang kau tapaki dengan sudi Sayang, ku bukan rinjani Mustahil kau temui hingga mati Sebab-musabab tidak pernah adil Menerpa rupa dalam dimensi Berhenti sudah meratapi Sayang, ku tetap menanti Satu kali masih tak pasti Selanjutnya sisa ambisi Melupakan hanya tradisi Menyembuhkan hati esok hari

Mengapa Hanya Aku?

Aku Anisa. Aku punya kisah hidup yang berbeda dengan kebanyakan orang. Terkadang aku ingin menertawakan dunia. Mengapa dunia bisa sekejam ini menghakimi bocah mungil yang sejatinya sangat membutuhkan tameng pelindung. Sudah sejak lama aku ingin berteriak memaki dunia. Aku tidak merasa ada keadilan. Berulang kali aku hanya mampu bertanya dalam hati. "Mengapa hanya aku?". Pertanyaan yang tertahan hingga akhirnya hanya membatu dalam hati. Pertanyaan yang semakin meruncing seolah menohok ulu hati, Aku bosan seperti ini. Aku bukan anak kecil yang membutuhkan hanya sekedar perlindungan. Aku pernah ingin mati, aku pernah sangat marah. Aku pernah melewati masa-masa itu. Aku pernah sangat iri melihat tawa bahagia anak kecil seusiaku tertawa terbahak-bahak. Mengapa hanya aku?

Teropong Serbaguna

Aku punya mainan baru. Hehehe. Tadaaaaa!! Teropong. Terus terang aku nggak sama sekali mengerti tentang kualifikasi teropong ini kayak gimana . So, aku nggak bisa mendeskripsikan teropong ini dengan detail. Yang aku tahu, ya ini alat namanya teropong haha. Aku nggak sengaja menemukan teropong ini di gudang. Dan kalian harus tahu, mengamati sesuatu dengan menggunakan teropong itu merupakan hal yang sangat mengasyikan. Sejak beberapa hari yang lalu, itu jadi hobby baru aku. Aku tahu sebenarnya yang aku lakukan itu sedikit nggak sopan. Tapi mau gimana lagi, seru banget sih. Ya, tuhan maafkan ketidaksopanan ku dalam menguntit kegiatan orang lain. Sejujurnya aku sama sekali tidak bermaksud melanggar privasi orang lain. Toh yang aku lakukan hanya mengamati gerak-geriknya saja. Aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma seperti mengintip orang mandi. hahahaha. Sama sekali tidak! Saat aku masih di rumah  yang di Tangsel, obyek yang bisa aku amati dengan menggunakan teropong ini ...

Pukul Sembilan Malam

Pukul sembilan malam, Tangsel tetap saja panas. Berbeda dengan Bandung yang aku pikir akan selalu sejuk. Ujian akhir semester satu telah usai. Kini saatnya aku menikmati masa-masa liburan yang hanya dua puluh hari. Jujur saja aku sangat ingin pulang ke Balikpapan. Aneh rasa nya, walaupun orang tua ku bertempat tinggal di Tangsel. Tetap saja aku tidak bisa menyebut Tangsel adalah rumah. Karena bagiku rumah yang sesungguhnya ialah kota ku. Balikpapan ku! Delapan belas tahun aku menjajakan kakiku di tanah Balikpapan. Aku rindu kota itu. Setidaknya kunjungan nenekku ke Tangsel mampu sedikit meredakan kerinduan yang aku rasakan. Nenekku sedang tertidur pulas tepat di sebelah ku. Kau harus tahu jika aku teramat menyayanginya. Aku telah berjanji pada diriku bahwa aku akan melakukan segala hal yang membuatnya bahagia. Tidak akan aku izinkan siapapun menyakitinya.

Nisa Kangen

Nisa kangen semuanya. Nisa kangen nenek, om ayel, mbak awi, bude, sepupu-sepupu nisa semuanya deh. Nisa kangen banget. Nisa kangen pantai, nisa kangen jalan minyak. Kangen trotoar yang bersih tanpa pedagang kaki lima. Nisa kangen makan jajanan kayak salome. Nisa kangen sekolah nisa yang dulu. Nisa kangen main angklung. Nisa kangen hapalan UUD45 sama Tap MPR. Nisa kangen sahabat-sahabat nisa semuanya. Nisa kangen guru-guru nisa. Nisa kangen banget pak/bu. Nisa kangen upacara bendera. Nisa kangen nongkrong di parkiran sebelum pulang sekolah. Nisa kangen nyanyi-nyanyi nggak jelas bareng teman-teman nisa. Nisa kangen kamar nisa. Nisa kangen balkon kamar tempat dimana nisa bisa ngeliat sunset secara jelas, tempat nisa ngopi, tempat dimana nisa bisa dapat banyak inspirasi, tempat dimana nisa bisa bebas nangis kalau lagi punya banyak masalah, tempat yang jadi saksi suka duka hidup nisa selama ini. Nisa kangen perpustakaan kota. Nisa kangen pasar kelandasan. Nisa kangen lapangan merdeka. Nisa ...

Grand Theft Auto

Anisa Nur Rezky, iya itu aku. Manusia di muka bumi yang selalu mengaitkan keadaan sekitarnya dengan video games populer sejak awal tahun dua ribuan hingga saat ini. Anak perempuan yang sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar sudah sangat menyukai play station. Terutama games Grand Theft Auto atau disebut GTA. Dimulai dari GTA Vice City hingga GTA V. Namun yang paling disukainya adalah GTA San Andreas. ‌ Bukan aku jika tidak sedetikpun mengaitkan hal-hal tertentu dengan games populer itu. Masih ku ingat jelas bagaimana perbincangan ku dengan adikku. "Bim, coba deh kamu liat mobil yang kebalik itu. Mirip di GTA ya". Pada saat itu kami sedang berada di jalan tol simatupang dan telah terjadi kecelakaan. Sehingga, mobil yang  kami lihat sedang berada di posisi yang terbalik. Ketika aku di Balikpapan. Aku sedang menelusuri jalan M.T Haryono bersama om, tante, nenek, dan sepupuku. Saat itu kami sedang berencana untuk pergi menuju acara pernikahan salah satu sanak saudara. ...

Inilah Aku, Itulah Dia

Inilah aku, yang punya trauma di hati. Takut jatuh cinta. Takut sakit hati. Inilah aku yang pernah begitu mencintai seseorang dan pernah terluka begitu dalamnya. Inilah aku yang hatinya pernah hancur walau telah pulih namun menyisakan sisa goresan yang sampai kapanpun tidak akan pernah hilang. Inilah aku yang selalu merasa takut ketika mengagumi seseorang. Inilah aku. Itulah dia, yang sejak awal berjumpa membuatku takut mengakui bahwa ada sedikit rasa yang berbeda. Itulah dia yang memiliki sifat yang sangat aku sukai. Pemberani, tangguh. Itulah dia yang sorot matanya sangat aku suka. Itulah dia pemilik senyum yang indah. Itulah dia yang ketika ia bertanya mengenai hal sederhana tentang diriku, mampu membuatku tersipu. Itulah dia. Bandung, 14 November 2015 (Ditemani lagu Yesterday by The Beatles )